Soloraya — Bagi sebagian masyarakat di wilayah Soloraya, air bersih merupakan kebutuhan yang selalu tersedia setiap hari. Cukup membuka keran, air pun mengalir. Di kawasan yang sulit mendapatkan air bersih menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Ketika persediaan air hujan di dalam tandon habis, warga terpaksa menunggu kedatangan truk tangki atau membeli air menggunakan uang pribadi.
Keadaan itu menjadi persoalan yang tidak mudah karena sebagian besar warga bekerja sebagai petani. Penghasilan mereka bergantung pada musim panen dan tidak datang secara rutin setiap bulan. Akibatnya, biaya pembelian air sering kali diambil dari tabungan keluarga atau hasil penjualan aset produktif seperti ayam dan kambing. Satu tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter dijual dengan harga kurang lebih Rp120 ribu. Jumlah tersebut umumnya hanya cukup memenuhi kebutuhan satu keluarga selama dua hingga tiga pekan. Artinya, setiap keluarga harus mengeluarkan sekitar Rp240 ribu setiap bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Nominal tersebut mungkin tidak terlalu besar bagi mereka yang memiliki pendapatan tetap. Namun, bagi para petani, biaya tersebut menjadi beban tambahan yang cukup berat, terutama ketika musim kemarau juga berdampak pada penurunan hasil panen. Kondisi itu menimbulkan persoalan yang berlapis. Di satu sisi, lahan pertanian menjadi semakin sulit diolah karena keterbatasan air. Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga justru terus meningkat. Situasi ini membuat sebagian warga terpaksa menjual ternak yang selama ini menjadi sumber penghasilan tambahan.

Padahal, ayam dan kambing bukan sekadar hewan ternak biasa. Hewan-hewan tersebut merupakan bentuk tabungan jangka panjang yang sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, membiayai pendidikan anak, atau menjadi modal usaha keluarga.
Dengan demikian, harga satu tangki air tidak hanya dihitung berdasarkan uang yang dikeluarkan. Di balik angka tersebut, terdapat nilai ekonomi lain yang hilang, mulai dari hasil panen yang berkurang hingga peluang usaha yang tidak dapat dikembangkan. Masyarakat selama ini mengandalkan tandon untuk menampung air selama musim penghujan. Persediaan itu kemudian digunakan secara bertahap hingga musim kemarau tiba. Ketika persediaan habis, warga hanya memiliki dua pilihan, yakni menunggu bantuan atau membeli air.
Layanan perpipaan sebenarnya telah tersedia di beberapa wilayah. Namun, distribusi air belum berjalan secara optimal. Sejumlah warga bahkan hanya memperoleh pasokan air sekali dalam sepekan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan jaringan perpipaan tidak selalu sejalan dengan kualitas pelayanan yang diterima masyarakat. Infrastruktur mungkin telah dibangun, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh warga.
Pada akhir Juni 2026, pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dibeberapa daerah menyalurkan puluhan ribu liter air bersih ke wilayah terdampak. Bantuan tersebut menjadi penopang utama bagi ratusan warga yang kesulitan memperoleh air. Meski demikian, bantuan darurat tidak dapat menjadi solusi jangka panjang. Pengiriman air menggunakan truk tangki hanya mampu mengatasi persoalan dalam waktu singkat, sementara kebutuhan masyarakat terus berlangsung sepanjang musim kemarau.
Karena itu, berbagai langkah strategis perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari peningkatan kapasitas penampungan air hujan, perbaikan sistem distribusi, pemanfaatan sumber air bawah tanah, hingga penguatan kawasan resapan air. Persoalan kekeringan di Soloraya sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang keterbatasan sumber daya alam. Persoalan ini juga berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat, terutama para petani yang menggantungkan masa depan mereka pada tanah, ternak, dan air.
Selama warga masih harus menjual hasil panen dan ternak untuk mendapatkan air bersih, persoalan tersebut belum dapat dikatakan selesai. Bantuan memang penting, tetapi solusi yang lebih mendasar adalah memastikan masyarakat tidak lagi bergantung pada kedatangan truk tangki setiap kali musim kemarau datang. Bagi masyarakat Soloraya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan penentu keberlangsungan hidup, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

